Tampilkan postingan dengan label Trumpeter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trumpeter. Tampilkan semua postingan

Review : Trumpeter 1/35 Strv103C

Trumpeter 1/35 Strv103C

The Turret-Less Tank

Swedia adalah negara favorit kami soal teknologi militer. Negara netral ini memiliki posisi geografis tepat diantara NATO dan Soviet. Swedia butuh kekuatan militer yang walaupun kecil harus sangat efektif. Swedia telah menelurkan berbagai keajaiban teknologi militer seperti fregat Visby class, Gripen, Viggen, dll. Dalam review ini kami akan mengulas salah satu monster darat hasil karya negara nordik ini, Strv103.

Review : Trumpeter 1/144 F 86F 40 Sabre JASDF 2 in 1

Trumpeter 1/144 F-86F-40 Sabre JASDF 2 in 1
The Transonic Fighter

Di akhir WWII mesin jet mulai diaplikasikan di pesawat tempur. Mesin ini bisa mendorong pesawat tempur ke kecepatan lebih tinggi, mendekati kecepatan suara/transonic. Karakter udara di kecepatan transonic berbeda dengan kecepatan rendah. Straight wing yang biasa digunakan pesawat bermesin piston tidak lagi optimum di kecepatan ini. Solusinya ada di riset orang Jerman tentang swept wing. Sayap dimiringkan ke belakang untuk memanage shock wave, mereduksi drag di kecepatan transonic secara signifikan. Selain itu elevator konvensional juga kurang efektif di kecepatan ini. Solusinya adalah all moving tail plane, elevator terbuat dari pelat utuh yang digerakkan sekaligus dari pangkalnya. Hasilnya adalah F-86 Sabre, pesawat tempur yang bisa bergerak lincah di kecepatan transonic.

Review : Trumpeter 1/144 Rafale M

Trumpeter 1/144 Rafale M box
Dassault Rafale

Pada akhir 1970an, AL dan AU Perancis menginginkan pesawat tempur baru. Kebetulan requirement mereka cukup mirip sehingga satu airframe diharapkan bisa memenuhi requirement keduanya. Negara-negara Eropa barat lainnya juga menginginkan pesawat tempur dengan requirement serupa. Sehigga mereka memutuskan untuk bekerjasama membuat satu pesawat, ECA (European Combat Aircraft).

Review: Trumpeter 1/35 SA2 Guideline on Launcher

Trumpeter 1/35 SA-2 Guideline on Launcher
SA-2 Guideline

Pada akhir WWII, pesawat bomber dan recce didisain untuk terbang sangat tinggi agar aman dari incaran fighter lawan. Fighter memang punya performa tinggi, tapi untuk mencapai ketinggian jelajah bomber dan recce bukan perkara yang mudah. Fighter tidak bisa langsung mengarahkan hidung pesawat vertikal ke atas. Kalaupun mesin fighter cukup kuat, bahan bakar bisa keburu habis duluan. Fighter perlu naik dengan sudut yang sedikit landai, memanfaatkan daya angkat sayap untuk membantu dorongan mesin. Akibatnya proses penyergapan harus direncanakan dari jarak jauh dan lebih mudah diprediksi. Sudah sampai di ketinggian pun masalah belum usai. Di ketinggian ini udara sangat tipis, sehingga performa mesin dan aerodinamika fighter merosot drastis. Kelincahan fighter pun menghilang di ketinggian ini. Bomber dan recce memang lamban, tapi fighter lebih lamban lagi. Bomber dan recce bisa dengan aman menyusupi daerah pertahanan.    

Review : Pit Road 1/700 USS Hornet CV 8

Pit Road 1/700 USS Hornet box
The Man behind the gun

The most important is the man behind the gun.

War is fought by soldiers.

Kata kata diatas, dan banyak lagi hasil pemikiran orang-orang hebat menyimpulkan pentingnya manusia sebagai penentu kemenangan. Teknologi dan logistik memang penting untuk menghadirkan peralatan berkualitas dalam jumlah yang cukup di tempat dan waktu yang tepat. Tapi semua itu perlu diawaki oleh manusia. Tanpa manusia yang berkualitas, semua itu akan sia sia.