Review : Zvezda 1/72 MiG-31

The Mighty Interceptor

Zvezda 1/72 MiG-31
MiG-31 Foxhound lahir dari kebutuhan spesifik pertahanan udara Soviet. Area yang harus dimonitor oleh pertahanan udara Soviet sangat luas. Teknologi dan taktik Amerika pun berkembang, serangan bomber bisa dilakukan dari ketinggian rendah. Kapal selam Amerika mampu meluncurkan rudal jelajah yang kecil dan terbang sangat dekat dengan tanah. Soviet butuh interceptor yang mampu berpatroli jauh ke pedalaman Arktik, mendeteksi area yang luas, sampai ke posisi penyusup dengan cepat, dan menetralisir penyusup terbang rendah. Selain itu pencegatan bisa terjadi di pedalaman dimana ground control tidak tersedia, interceptor baru ini juga dituntut agar bisa menghadapi beberapa ancaman secara mandiri.


MiG-31 dikembangkan dari MiG-25, interceptor tercepat saat itu (mach 2.8++). Ukuran MiG-25 yang besar punya potensi untuk membawa banyak bahan bakar, sensor, dan persenjataan. Masalahnya teknologi yang diimplementasikan di MiG-25 sudah tua dan difokuskan untuk menyergap target di ketinggian tinggi, sesuai dengan pola ancaman saat MiG-25 dibuat. Kemampuan radar MiG-25 belum memadai untuk mendeteksi target di ketinggian rendah. Mesin turbojet MiG-25 hanya mampu menembus kecepatan suara di ketinggian tinggi. MiG-25 juga overweight, airframe nya tersusun sebagian besar dari baja untuk menahan panas di mach 2.8. Konsekuensinya konsumsi bahan bakar cukup boros dan jangkauan relatif pendek, tidak cocok untuk patroli jauh ke pedalaman. Para disainer MiG menyadari kekurangan dan kelebihan MiG-25 lalu menyempurnakannya di MiG-31.

MiG-31 menggunakan sepasang mesin low bypass afterburning turbofan D-30-F6. Mesin turbofan ini lebih irit bahan bakar dari mesin turbojet milik MiG-25. D-30-F6 mampu mempertahankan performa MiG-31 di ketingian tinggi tetap sebaik MiG-25. Selain itu D-30-F6 mampu membawa MiG-31 menembus kecepatan suara di ketinggian rendah, sesuatu yang tidak bisa dilakukan MiG-25.

MiG-31 menggunakan lebih banyak titanium. Walau lebih mahal dan susah diolah, titanium sangat kuat, tahan panas, dan lebih ringan dari baja. Selain itu struktur internal MiG-31 juga dirapikan sehingga mampu membawa lebih banyak bahan bakar dari MiG-25. Jika masih kurang, MiG-31 bisa membawa drop tank untuk meningkatkan endurance.

Partoli di pedalaman tidak hanya butuh bahan bakar cukup saja. Sistem navigasi jarak jauh yang lebih baik diintegrasikan ke MiG-31, membuatnya mampu berpatroli dengan aman di pedalaman arktik. Landing gear MiG-31 juga diberi sentuhan khusus agar bisa beroperasi dari landasan terpencil yang ditutupi salju atau lumpur. Main landing gear disusun tandem secara offset agar roda belakang tidak terjebak di jalur roda depannya.  

Mendeteksi penyusup terbang rendah bukan perkara mudah. Pantulan radar dari target akan tercampur dengan ground scattering. Perlu radar beam yang tajam dan teknik processing canggih untuk melakukan hal ini. Untungnya hidung MiG-31 cukup besar, mampu membawa radar dengan antenna lebih kuat. Disainer MiG-31 melangkah lebih jauh lagi dengan mengintegrasikan radar PESA ZASLON S800 (Passive Electronically Scanned Array), fighter/interceptor pertama yang memakai radar jenis ini. Pada sistem PESA antenna dipasang mati, tidak diputar seperti radar mekanik konvensional. Antenna radar PESA adalah array dari banyak sekali elemen antenna kecil. Setiap elemen antenna dilengkapi dengan phase shifter sehingga fase gelombang yang diradiasikan setiap elemen bisa dikontrol secara independen. Gelombang yang berbeda fase tadi akan bersuperposisi dengan pola tertentu, akan kuat di satu arah dan lemah di arah lainnya tergantung beda fase antar gelombang. Phase shifter setiap elemen antenna dikontrol secara elektronik dengan cepat dan presisi. Sehingga radar beam ZASLON S800 bisa diarahkan dengan cepat dan presisi secara elektronik tanpa perlu menggerakkan fisik antenna. Dengan metode seperti ini MiG-31 bisa tracking 10 target terbang rendah sekaligus dari jarak 200 km dan menyerang 4 diantaranya dengan rudal. Radar ZASLON S800 sangat sensitif, tidak hanya bisa mendeteksi fighter, tapi juga target sekecil rudal jelajah. Untuk deteksi lebih senyap, MiG-31 juga dilengkapi dengan retractable IRST sensor. Kombinasi radar yang kuat dan IRST membuat penyusup, bahkan yang dilengkapi teknologi stealth, harus sangat hati-hati.

MiG-31 memang didisain agar bisa beroperasi secara independen, tapi interceptor ini juga dibekali kemampuan untuk bekerjasama dengan elemen lain menggunakan digital secure data link. Data sensor bisa di share dengan elemen darat, AWACS, ataupun fighter lain seperti MiG-29 dan Su-27. Pola kerjasama yang paling umum adalah 4 buah MiG-31 terbang parallel dengan jarak cukup jauh. Data sensor keempat MiG-31 di share untuk menghasilkan satu gambaran besar dari area yang sangat luas.     

Senjata utama MiG-31 adalah rudal jarak jauh R-33 Amos, atau AA-9 dalam designasi NATO. MiG-31 bisa membawa 4 rudal jenis ini secara semi recessed dibawah fuselage. Ini adalah cara yang cerdas memanfaatkan ukuran bongsor MiG-31 untuk membawa banyak rudal dengan drag minimum. R-33 menggunakan semiactive guidance, memanfaatkan kemampuan luar biasa radar ZASLON S800. Varian terbaru MiG-31 juga bisa membawa 6 rudal jarak jauh R-37 berpemandu aktif secara semi recessed di bawah fuselage. Saat ini kemampuan MiG-31 untuk meluncurkan rudal jarak jauh (R-33 dan R-37) secara optimum hanya bisa diimbangi oleh F-14 Tomcat.

Mungkin banyak yang mempertanyakan efektifitas rudal jarak jauh, apakah rudal itu efektif untuk menyergap fighter yang bermanuver? Apakah sistem semi-aktif R-33 membahayakan MiG-31 peluncurnya karena harus terus meng-iluminasi target?. Salah satu jawabannya adalah segala jenis senjata akan paling efektif kalau digunakan sesuai parameternya. Rudal jarak jauh memang punya kelemahan, performa kinematik dan manuvernya tidak terlalu bagus saat diluncurkan dari jarak maksimum. Target lincah seperti fighter bisa menghindari R-33/R-37 saat sudah hampir kehabisan bahan bakar di jarak maksimum dan memanfaatkan guidance beam untuk mengestimasi posisi MiG-31. R-33/R-37 akan sangat bermanfaat untuk untuk menembak target non-manuvering yang perlu dihancurkan sesegera mungkin dari jarak sejauh mungkin. Target seperti rudal jelajah, UAV, dan pesawat ISR bisa masuk ke kategori ini. Fighter/Attack yang sedang membawa stand-off munition juga bisa masuk ke kategori ini. Saat membawa munisi berat, kelincahan fighter umumnya berkurang, kemungkinan R-33/R37 berhasil semakin besar. Kecepatan dan jangkauan R-33/R-37 memungkinkannya mengenai target sebelum musuh sempat meluncurkan munisi stand-off. Jika R-33/R-37 terdeteksi musuh, dia akan terpaksa melakukan serangan secara prematur atau bahkan membatalkan serangan. Saat serangan dibatalkan, misi pertahanan udara MiG-31 bisa dianggap sukses. Jika pesawat penyerang tetap nekat meneruskan serangan dari jarak lebih dekat, MiG-31 punya resep lain.

Pertarungan jarak medium dan dekat memang bukan spesialisasi interceptor bongsor seperti MiG-31. Walau demikian MiG-31 dilengkapi LERX dan auto extension leading edge maneuvering flaps untuk mengingkatkan kelincahan di kecepatan rendah. Dengan taktik yang tepat, pilot juga bisa memanfaatkan kecepatan superior MiG-31 untuk menghadapi lawan yang lebih lincah, mungkin seperti P-40 melawan Zero.

Di jarak medium MiG-31 bisa meluncurkan rudal R-77 yang sangat lethal. Saat pertempuran masuk ke jarak lebih dekat lagi, rudal high off-boresight seperti R-73 bisa digunakan. Musuh yang kebetulan ada di depan hidung bisa disikat dengan kanon GSH-6-23. R-77 dan R-73 bisa digotong di 4 wing pylon. Sedangkan GSH-6-23 terpasang integral di sisi fuselage untuk akurasi optimum.

Wing pylon MiG-31 juga mampu membawa rudal lawas R-40 yang biasa dibawa MiG-25. R-40 berguna untuk menghantam target non-maneuvering yang terbang tinggi.     

Sensor dan persenjataan MiG-31 terlalu kompleks untuk ditangani seorang pilot. Oleh karena itu disediakan awak kedua untuk mengontrol sensor dan persenjataan tersebut. Pilot bisa berkonsentrasi untuk terbang, baik itu di ketinggian rendah atau digeber maksimum sampai mach 2.8 di ketinggian.

Zvezda 1/72 MiG-31
Zvezda 1/72 MiG-31 parts
MiG-31 adalah pesawat besar, pastikan Anda punya cukup ruang untuk memajang model besar ini. Untungnya ukuran besar ini tidak membosankan karena diperkaya dengan detail. Panel line kit ini sudah beraliran recessed. Walau belum setipis Hasegawa, tapi sudah cukup realistis dan konsisten.
Zvezda 1/72 MiG-31 wing
Zvezda menggunakan decal untuk mereresentasikan detil kokpit kit ini. Memang tidak seakurat raised relief, tapi kokpit yang cukup bagus bisa dibuat dengan sangat mudah. Decal instrument panel tadi akan terlihat bagus dari luar mengingat canopy framing MiG-31 yang cukup tebal. Tantangannya adalah menemukan cat yang sesuai agar instrument panel decal bisa menyatu dengan baik di cokpit tub.
Zvezda 1/72 MiG-31 clear parts

Zvezda 1/72 MiG-31 display stand

Zvezda menyediakan opsi untuk membuat MiG-31 sedang terbang atau di darat. Seated pilot figure tersedia untuk membuat MiG-31 sedang terbang. Selain itu Zvezda juga menyediakan display stand yang cukup bagus. Landing gear kokoh MiG-31 direpresentasikan dengan sangat baik di kit ini.
Zvezda 1/72 MiG-31 landing gear
Exhaust MiG-31 berukuran raksasa, dan Zvezda menyediakan part dengan detail realistis di area ini. Tidak hanya sisi luar, turbine face yang cukup bagus juga disediakan.

Zvezda menyediakan load out legkap untuk MiG-31 di kit ini. Tersedia 4 rudal R-33, bawaan khas MiG-31 untuk dipasang dibawah fuselage. Keempat wing pylon bisa dijejali sepasang rudal raksasa R-40 dan drop tank. Gun muzzle yang detail juga disediakan oleh Zvezda di kit ini.

Overall detil internal Zvezda 1/72 MiG-31 memang tidak istimewa. Akan tetapi dengan kit ini anda bisa membuat model interceptor yang besar, sangar, dan tentu saja armed to the teeth.

Silahkan kunjungi toko kami, www.rumahmokit.com untuk memiliki kit ini dengan mudah, Terimakasih :) 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar